HMI Ciamis: Esensi Perjuangan May Day Harus Dikembalikan

May Day
Sekretaris Umum HMI Ciamis, Lutfil Aziz/Dok. Pribadi

Regional, CIAMIS: Hari Buruh Internasional atau May Day, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei, merupakan simbol perjuangan pekerja di seluruh dunia melawan ketidakadilan sosial dan ekonomi.

Namun, menurut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciamis, makna fundamental dari peringatan ini semakin kabur dan tergerus oleh arus modernisasi dan kepentingan pragmatis.

Sekretaris Umum HMI Cabang Ciamis, Lutfi, mengungkapkan kritiknya terhadap cara berbagai pihak memperlakukan May Day.

Ia menyoroti bahwa momentum ini cenderung berubah menjadi acara seremonial tanpa substansi, sehingga kehilangan esensi perjuangan sosialnya.

“May Day bukan sekadar perayaan tahunan. Ini seharusnya menjadi ajang refleksi dan aksi nyata untuk memperjuangkan hak buruh,” tegas Lutfi.

Krisis Perlindungan Buruh di Era Neoliberal

Lutfi menilai, sistem ketenagakerjaan di Indonesia saat ini masih dikuasai oleh paradigma neoliberal, di mana negara lebih memprioritaskan kepentingan modal daripada kesejahteraan pekerja.

Hal ini terlihat dari implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yang menurutnya menurunkan standar perlindungan buruh dan memperbesar peluang eksploitasi.

“Kebijakan ini membuat buruh kehilangan posisi tawar yang kuat. Outsourcing dan kontrak kerja semakin mendominasi, sementara perlindungan jaminan sosial menjadi lebih lemah,” ujar Lutfi.

Ia juga menyoroti bagaimana kebijakan ini memperkuat ketergantungan struktural yang hanya menguntungkan pemodal besar.

Pergeseran Makna May Day

Ironi terbesar dari peringatan May Day, menurut Lutfi, adalah pergeserannya menjadi sekadar panggung simbolis bagi elit serikat buruh.

Alih-alih menjadi wadah perjuangan, peringatan ini sering kali diisi dengan kegiatan hiburan atau kampanye politis tanpa dampak nyata.

“Kami melihat bahwa buruh di sektor informal, khususnya di Ciamis, belum mendapatkan perhatian yang layak. Ketimpangan upah, minimnya pelatihan kerja, dan lemahnya jaminan sosial masih menjadi masalah besar,” lanjutnya.

Seruan Perubahan dari HMI Ciamis

Dalam perspektif keislaman dan keindonesiaan, HMI Ciamis menyerukan pentingnya keadilan sosial sebagai dasar tata kelola negara.

Lutfi menyampaikan sejumlah tuntutan, termasuk revisi UU Cipta Kerja dengan melibatkan partisipasi publik, penetapan upah minimum berbasis kebutuhan hidup layak, dan penguatan serikat buruh di tingkat akar rumput.

HMI juga mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan pelatihan kerja dan membangun sinergi dengan perguruan tinggi guna menciptakan kebijakan berbasis riset.

“Buruh adalah pilar utama pembangunan. Negara dan masyarakat harus bersama-sama memastikan kesejahteraan mereka,” imbuh Lutfi.

Mahasiswa dan Buruh: Satu Barisan Perjuangan

Lutfi menekankan pentingnya solidaritas antara mahasiswa dan buruh untuk melawan ketimpangan struktural.

“Mahasiswa dan buruh harus bersatu. May Day bukan hanya hari mereka, tetapi juga panggilan moral bagi kita semua,” kata dia.

Ia menegaskan, hanya dengan mengembalikan May Day ke esensi perjuangan sosialnya, bangsa ini dapat mewujudkan keadilan yang sejati dan martabat yang setara bagi seluruh rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *