Hiburan, CIAMIS, Sakata.id:- Arena QR Musik on The Street, tak berbangku. Hanya ada tangga menuju Taman Raflesia yang menjadi tempat duduk. Penggiat musik tampil di bawah tangga itu, persis di bawah Foodcourt Alun-Alun Ciamis.
Sabtu 4 Oktober 2025, langit cerah.
Diantara orang-orang yang duduk di tangga, ada senyum sumringah dari sosok pria berkacamata, dengan kaos merah putih, bercelana jeans, bersandal biru.
Pria itu tak asing bagi warga Ciamis. Dia Herdiat Sunarya, orang nomor satu di Tatar Galuh. Dia membaur bersama warga, menunggu jatuhnya senja di atas Taman Raflesia. Tentu sambil menikmati musik.
Kehadirannya menambah energi dan semangat musisi Ciamis yang biasa bermain di QR Musik on The Street setiap Sabtu.
Dari cara dia datang, duduk, membaur, hingga outfit yang dipakainya, Herdiat datang bukan sebagai pejabat nomor satu, bukan sebagai bupati, tetapi sebagai penikmat (musik-red). Begitu santai — tanpa protokol — datang tiba-tiba.
Pentolan QR Studio, Hendra S Marcusi tak bisa tak menyanjungnya. Kata Hendra, bupati sudah dua kali datang dengan cara yang sama menyaksikan Music on The Street.
” Pak bupati duduk menyatu dengan pengunjung lainnya. Terselip diantara warga yang menonton. Datang diam-diam. Itu menjadi support dan penyemangat bagi kami untuk tetap meramaikan alun-alun dan memberikan tontonan musik,” kata Hendra.
Meski tak memberikan sambutan kehadiran Herdiat seolah membawa narasi, “panjang umur QR Music on The Street, teruslah berkarya musisi Ciamis. Ramaikan kota dengan nyanyian”.
Cogito ergo sum, para pegiat musik Ciamis ada, karena berkarya. Karya-karya mereka di music on the street, tak hanya menjadi pelipur. Bahkan menurut Dekan Fakultas Ekonomi Unigal Nurdiana Mulyatini, mereka (musisi) turut menghidupkan transaksi ekonomi di kawasan Alun-alun Ciamis dengan pertunjukan tersebut.**

